Portal Berita Nagari
Tanah Datar –  Satu lagi, situs cagar budaya Goa Ayia Lului tantang para pencita alam untuk menikmati keindahan alamnya yang terletak di ketinggian kurang lebih 1000 meter dari permukaan laut yang terletak di Kabupaten Tanah Datar, tepatnya di Kecamatan Sungayang Nagari Sungai Patai, selain Treknya yang menantang, tempat tersebut sangat cocok bagi para bagi kaula muda dalam menguji nyali dan fisinya.

Goa Ayai Lului ini merupakan salah satu cagar budaya yang letaknya di tengah hutan belantara dan juga berbatasan langsung antara Tanah Datar dengan kabupaten Limapuluh Kota, Gao ini terkenal dengan nilai sejarahnya, pada tahun 1948 Goa ini merupakan tempat persembunyian para tentara PDRI pada masa penjajahan.

Kaur Pembangunan Nagari Sungai Patai, Defrianto (42) mengatakan, Gao yang ditemukan masyarakat sejak beberapa tahun lalu, merupakan tempat persembunyian para pahlawan kita jaman dulu, selain tempatnya yang masih asri, jarak tempuh dari perkampunganpun tidak terlalu jauh, sehingga para wisatawan yang ingin melihat dan menyaksikan keindahan Stalakmit dan Stalaktit dalam Goa dapat dengan mudah melihatnya.

“Kalo jarak tempuh normal biasanya dari perkampungan, memakan waktu kurang lebih 2 jam, setelah itu kita kan menemukan 4 Goa disana, dengan satu Air terjun yang berada di tengah perjalanan menuju ke Mulut Goa,” jelas Defrianto yang juga didampingi Ariswandi (35) selaku Kasi Kesenian dari Dinas Pendidikan dan Kesenian Tanah Datar, saat melakukan exspedisi melihat Goa tersebut, Minggu (29/10).

Tambah Defrianto, area seluas kurang lebih 10 hektar ini, selain letaknya di perbatasan, destinasi wisata yang satu ini masih belum banyak di ketahui orang, sehingga untuk mengangkat tempat ini menjadi sebuah tempat wisata baru, perlu dukungan pemerintah setempat untuk sama-sama bisa melestarikan tempat bersejarah ini, sehingga tempat pariwista di Tanah Datar bertambah dengan hadirnya, Goa Ayia Lului ini.

“Kita berharap kepada pemerintah agar mau memberikan dukungan dalam mengembangkan destinasi wisata Goa Ayia Luluih ini sehingga Nagari Sungai Patai selain terkenal dengan budaya Sileknya, juga terkenal dengan desa Wisatanya, guna  menambah nilai ekonomi bagi masyarakat yang nota benenya sebagai petani, sehingga Nagari ini juga bisa maju seperti Nagarai lainnya yang ada di Luar Tanah Datar,” tutur Defrianto.

Lebih lanjut Defrianto juga mengatakan, selain masyarakat di sekitar, Goa Ayia Luluih juga pernah di kunjungi oleh tim BPBD Tanah Datar guna menyaksikan keindahan alam dan uji fisik aggotanya, selain itu juga para mahasiswa dari IAIN Tanah Datar juga pernah berkunjung kemari dalam rangka mengisi kegiatan Mapala Kampus Islam tersebut. Didengar dari komentar para tamu yang datang di kesini, pada umumnya mereka puas dan senang, sehingga ini bisa menjadi catatan tersendiri bagi kami selaku pengurus Nagari dalam mengembangkan daerah ini.

Semetara itu salah satu Wartawan Senior Harian Singgalang, Musriadi Musanif yang ikut pada tim Exspedisi itu, mengatakan, bagi saya selain menguji fisik, pendaikian menuju Goa ini juga menyehatkan raga, keringat kita keluar, Fikiran kita Fres dan udara yang kita hiruppun bersih, sehingga apabila tempat ini dibangun seperti layaknya tempat wisata di Bukittinggi yang kita kenal dengan Janjang seribu Koto Gadang, wah saya rasa tempat ini juga tidak kalah menarik. Nah bagi para pencinta alam yang suka akan tantangan coba trek ini, dijamin kepuasan akan kita dapatkan, kalau yang tua saja mampu kenapa yang muda tidak bisa, ajak Musriadi sambil menghela nafas di sela-sela istirahat saat melaksanakan pendakian.

Tambahnya, dirinya sangat takjub dengan keindahan Goa Ayia Luluih ini, sehingga dengan usia yang sudah tidak muda lagi ini, dirinya ampu menyelesaikan misi dari mulai Star hingga Finish untuk dapat melihat langsung salah satu keindahan ciptaan tuhan ini.

“Kalau dilihat dari treknya sepertinya saya tidak sanggup untuk menyelesaikan perjalanan ini, mengingat usia yang sudah tidak muda lagi, namu karena semangat yang kuat dan suport dari teman-teman akhirnya Empat Goa dan satu air terjun dapat saya saksikan degan nyata, ini sangat luar biasa dan perlu di lestariakan agar destinasi wisata di Tanah Datar tidak hanya sebatas Istano Basa Pagaruyung saja,” jelas Wartawan Utama itu. (Put)
 Sumber pasbana.com

Nagari Sungai Patai, Sudah lama tidak menyelenggarakan alek Nagari Bagatak panghulu atau malewakan gala. Sudah hampir 20 tahun lebih bagatak panghulu tidak dilaksanakan di Sungai Patai. Saat ini sudah saatnya nagari Sungai Patai meregenerasi pimpinan adat. Terakhir acara batagak penghulu dilangsungkan pada dekade 1990-an.
Selalu pelihara mimpimu karena mimpi itu akan membawamu terbang dan berilah  sayap mimpimu itu dengan doa dan usaha. Kuatkanlah otot-otot mimpimu dengan keyakinan.
Bermimpilah maka mimpi itu akan membawa kemana dirimu akan pergi. Kisah ini dari catatan pribadi anak Sungai patai yang menginjkkan kakinya di bumi Cendrawasih. Tanah yang elok dan surganya Indonesia. Dia pergi ke tanah Papua tahun lalu dengan membawa sejuta harapan . hingga Saat ini dia sudah mampu membantu orang tua, keluarga dan orang-orang sekitarnya.
Kisah ini dimulai 7 tahun lalu. Dia seorang pemudah tangguh ditengah kerasnya hidup. Seorang pemuda tamat SMA asal sungai patai yang berani bermimpi.  Waktu itu, saat teman-teman sebaya sudah kuliah, ia hanya jadi penggangguran dan berharap dari hasil tani. Di dalam hatinya ingin seperti teman-temannya, Ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.  Dia pengen kuliah tetapi kendala klasik selalu saja mengintai siapapun termasuk dirinya. Ya... terkendala biaya.
Dari atas bukit, Hujan menguyur nagari Sungai Patai. Hujan seakan-akan mencerahkan dirinya, mengalirkan air harapan ditubuhnya. Saat dia sedang mengambil ajir/ tonggak untuk memapah tanamannya. Dia temenung, dalam hati dia berkata “teman-temanku sedang asik belajar di bangku kuliahan. Sedangkan aku, hanya seorang petani, jika aku tidak kuliah,mungkin selamanya aku akan menjadi petani, (memang pendidikan tidak menjamin sukses seseorang tetapi pendidikan adalah cara terbaik menggapai kesuksesan)” kalimat ini selalu mengiang-ngiang dalam pikirannya.
Tekadnya sudah bulat. Dia harus kuliah karena pendidikan adalah salah satu cara untuk mencapai kesuksesan. Dia memutuskan untuk kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Batusangkar. Kampus yang dia tuju ini tidak jauh dari kampungnya. Dia berfikir, ditempat inilah dia memulai mimpinya. Alasannya sederhana, dia bisa kuliah tanpa meninggalkan aktivitas dan rutinitasnya sehari-hari bertani.  Karena baginya hasil bertani inilah menopang untuk melanjutkan kuliah.
Waktu terus berjalan, hingga sampailah ia pada semester 6. Pengetahuannya terus bertambah, cakrawalanya terus melebar.  Sehingga mempengaruhi plo pikirnya tentang pendidikan. Dia berfikir untuk melanjutkan ke strata 2 (S2). Ini bukan tentang keserakahan, ini tentang Ilmu, toh Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan untuk menuntut ilmu dari buaian sampai liang lahat. Hadist nabi Muhammad SAW ini juga memotvasinya untuk mengapai pendidikan lebih tinggi.
Saat kuliah pun kehidupannya tidak berjalan mulus-muls saja. Ada-ada saja kendala yang dia hadapi. Dia masih ingat ketika akan pergi berangkat kuliah, dia hanya membawa uang Rp.1000 ke kampusnya. Hanya cukup membeli bakwan atau makan kecil dikampus. Namun dia tetap saja pergi kuliah karena baginya uang sedikit tidak menghalanginya untuk bermimpi
Di kampungnya pilihan hidup untuk sukses tidaklah banyak. Cara terbaiknya adalah merantau. Karena di kampung pendapatan utama hanya dari hasil bertani. Tidak lebih dari itu. Dia ingin sukses bahkan dia ingin melanjutkan pendidikan ke Strata 2. Alasanya sederhana, dia ingin sukses yang berbeda dengan orang kebanyakan.  Akhirnya dia mengumpulkan uang hasil pertaniannya. Tujuannya cuma satu agar dapat masuk S2.
Namun , Ia sedikit lengah, karena kesibukan bertaninya hampir saja melupakan tujuan dan arah yang sudah dia bangun sejak remaja dulu. Orang-orang heran melihat dia tetap saja berkerja membuat bedengan ladang mentimun di sawah padahal sedang ujian semeter. Pada saat itu dia telat mengikuti ujian. Orang-orang sekitarnya tahu bahwa dia ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Sehingga orang-orang  pun bilang, “kamu masih ingin kuliah atau tidak, kalau kamu kuliah kenapa kamu tidak seperti yang lain, yang menghabiskan waktunya di kampus” Kalimat itu menyadarkan dirinya. Dalam hati pemuda itu bilang saya ini kuliah dan harus tamat. Kata-kata itu seperti sebuah cambukan baginya. Memang sedikit diluar perkiraannya. Ia menyelesaikan pendidikannya 5 tahun. Mimpi tentang Pendidikan lebih tinggi pun pudar karena telat menyelesaikan S1.
Pada saat itu, dia tidak lagi berfikir bagaimana melanjutkan S2. Tetapi ia berfikir bagaimana saya bisa kerja. Dia memutuskan utuk mencari pekerjaan. Akhirnya ia mendaftar pada salah 1 perusahaan minyak. Sayang sekali ternyata itu tipuan. Dia masih ingat beberapa kali gagal. Dia gagal 2 kali mendaftar di PLN. Namun, kegagalan demi kegagalan tidak menyurutkan niatnya,  ia mencoba lagi mendaftar pada sebuah perusahaan jasa konsultan keuangan. Berkat doa dan usaha akhirnya diterima.
Awalnya ada keraguan  dalam diriku. “bagaimana kalau saya di tipu lagi” tetapi ia ingat dengan mimpinya 7 tahun lalu.  Dengan modal nekat dan membawa bekal seadanya ia berangkat ke Papua sendiri, dengan memegang 1 prinsip " mencoba memang tak mengapa, tetapi mengapa aku tak mencoba",
Jika teman-teman bertanya apakah kamu malu dengan keadaan demikian. Jujur saya jawab malu pada waktu itu bahkan kuku tangan dan kaki saya hitam. Tidak terlihat seperti orang kuliah kebanyakan yang rapi. Tetapi hari ini, pengalaman itulah yang  membuat aku bangga. Jika pertanyaan itu diajukan pada hari ini, aku bangga dengan latar belakangku. Kalau tidak karena kuku hitam, tangan hitam karena sengatan matahari, kalau tidak karena bertani aku tidak akan menjadi seorang seperti ini. Jauh jarak dengan kampung halaman tidak lah sejauh mimpi yang ingin akau gapai. Perjalanan panjang nan berliku, tanjakan dan turun dalam perjalan hidup ini menjadi ingatan  dan membuat aku selalu melihat kebawah.

“untuk adek-adek di kampungku, beranilah bermimpi, awalnya sebuah cemoohan, tetapi akhirnya akan jadi sebuah pujian”

Dulu generasi muda yang mendesak Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan di usia muda juga Muhammad Al Fatih menaklukkan kota Konstantinopel.
Ikatan kekeluargaan sering kita dengar di tanah perantauan. Saat ini hampir setiap daerah mempunyai ikatan kekeluargaannya di rantau. Begitu juga dengan nagari Sungai Patai. IKSP asal singkatan dari ikatan kekeluargaan Sungai Patai. Ikatan kekeluargaan merupakan bentuk dari persaudaraan senasib di rantau.
Previous PostOlder Posts Home